Mr Zhen Wen Ying adalah salah satu dari 90 relawan Guru Bantu Bahasa Mandarin (Tionghoa) dari RRC yang diperbantukan di Indonesia, tepatnya di SMA Ar-Risalah Lirboyo Kota Kediri. Program bantuan Guru Bantu Bahasa Mandarin ini merupakan program rutin dari Kementrian Pendidikan Nasional, melalui Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Profesi Tenaga Pendidik (PMPTK). Alhamdulillah, SMA Ar-Risalah telah mendapat kepercayaan sebanyak lima kali, berturut-turut sejak tahun 2005.
Mr. Maxim, sapaan akrab Mr Zhen Wen Ying, lahir di Shicuan, 25 Januari 1985. Dalam umur yang tergolong muda, pengalaman mengajarnya sebagai guru Bahasa Mandarin sangat luar biasa, itulah yang menyebabkan dia terpilih mewakili negaranya di program ini. Di samping itu, sederhana, murah senyum, dan supel sudah menjadi identitasnya yang sulit dilepaskan. Selama mengajar di SMA Ar-Risalah Lirboyo Kota Kediri, etos kerja dan kesungguhan pengabdiaannya juga sangat terasa. Inovasi pembelajaran dan penggunaan media Bahasa Mandarin adalah salah satu buktinya. Bahkan, dalam sidaknya, dr. Samsul Ashar, Sp.D. (Wali KOta Kediri) sangat senang dan sangat mengapresiasi strategies classromm yang digunakan Mr Maxim. Alhasil, sederet prestasi SMA Ar-Risalah di event Chinese Bridge Nasional dan Juara III Karya Tulis Bahasa Mandarin Tingkat SMA se Jatim lalu yang disabet Lisdariyati dan Rimas Kiki Kirana (siswa XA) cukup membuktikan bahwa dia adalah seorang guru yang sangat berdedikasi. Apalagi ditopang kemahiran berbicara dalam Bahasa Indonesia yang cukup lancar, membuat Mr Maxim sering di daulat untuk memberikan sambutan saat penerimaan dan pelepasan guru bantu di Dir. PMPTK Jakarta.
Pencinta soto ayam ini juga sangat akrab dengan guru dan staf ketenagaan di kantor. Tak heran jika, dalam acara Pelepasan Guru Bantu Bahasa Mandarin lalu mengharukan. Setelah berkata,"Mungkin ini yang berakhir bagi saya dan tidak kembali ke Indonesia" Mr Maxim pun meneteskan air matanya. Sungguh berat memang, setelah dua tahun lamanya, Kamis, 10 Juni 2010 akhirnya Mr Maxim sudah harus bergegas ke bandara.
Dalam sambutannya, Kepala SMA Ar-Risalah berharap, ilmu yang telah diperoleh agar terus dikembangkan dan diamalkan. Harapannya agar peserta didik menjadi 'pejuang baik' yang bermanfaat bagi sesama. Serta beliau juga berharap agar program ini terus berkelanjutan dan berkesinambungan demi peningkatan kualitas pendidikan di Kota Kediri dan Indonesia pada umumnya. Acara tersebut diakhiri dengan sesi foto bersama dan ditutup do'a serta sejuta harapan agar Mr Maxim mendapat hidayah dan petunjuk-Nya. Amin.
Pencinta soto ayam ini juga sangat akrab dengan guru dan staf ketenagaan di kantor. Tak heran jika, dalam acara Pelepasan Guru Bantu Bahasa Mandarin lalu mengharukan. Setelah berkata,"Mungkin ini yang berakhir bagi saya dan tidak kembali ke Indonesia" Mr Maxim pun meneteskan air matanya. Sungguh berat memang, setelah dua tahun lamanya, Kamis, 10 Juni 2010 akhirnya Mr Maxim sudah harus bergegas ke bandara.
Dalam sambutannya, Kepala SMA Ar-Risalah berharap, ilmu yang telah diperoleh agar terus dikembangkan dan diamalkan. Harapannya agar peserta didik menjadi 'pejuang baik' yang bermanfaat bagi sesama. Serta beliau juga berharap agar program ini terus berkelanjutan dan berkesinambungan demi peningkatan kualitas pendidikan di Kota Kediri dan Indonesia pada umumnya. Acara tersebut diakhiri dengan sesi foto bersama dan ditutup do'a serta sejuta harapan agar Mr Maxim mendapat hidayah dan petunjuk-Nya. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar